Apapun alasan orang menulis, dia membutuhkan bacaan sebagai imbangan. Kalau seseorang membaca
banyak tetapi menulis sedikit, mungkin dia seorang penikmat. Kalau seseorang
menulis banyak tetapi membaca sedikit, kemungkinan dia sekadar curhat, atau
siap untuk tersesat.
Untuk
menjaga agar saya tetap membaca meskipun sedang kurang motivasi, sepertinya saya
memilih membaca buku yang sudah pernah saya baca. Lebih banyak komik atau
manga, sebenarnya. Tetapi ada beberapa pengecualian.
Sewaktu
tinggal di Surabaya, saya beberapa kali pulang ke Makassar melalui jalur laut. Untuk
menikmati sekitar 22-24 jam di atas kapal, saya membawa teman satu-dua buku.
Yang tidak terlalu tebal tetapi cukup menyibukkan. Yang ceritanya tidak terlalu
rumit tetapi cukup mengundang perenungan atau memancing hayalan. Dan beberapa
kali yang terbawa adalah “The Jungle Books”. Mungkin buku itu sudah dua kali saya
baca di atas kapal. Ditambah pengalaman membacanya di darat, menurutku “The
Jungle Books” sudah kubaca paling sedikit tiga kali.
Alasan pemilihannya
bisa berbagai, dari yang berhubungan dengan buku itu sendiri sampai penciptaan
citra tertentu di mata penumpang lain. Antara lain, saya tidak ingin mengalami
loncatan-loncatan emosi yang terlalu besar (kalau misalnya membaca buku yang
belum pernah kubaca); saya bisa berhenti membaca kapan saja dan melakukan
kegiatan lain, karena alur cerita sudah kuketahui sehingga tidak ada rasa
penasaran yang menggebu yang akan memaku saya di depan buku itu; “The Jungle
Books” bisa menjadi jembatan percakapan dengan penumpang lain karena sudah umum
dikenal (baik sebagai buku, film,maupun sebagai kartun), apalagi kalau bertemu
dengan sesama penyuka buku atau sesama penggemar membaca.
Bagaimanapun,
kenyataan bahwa saya bisa bertahan dan betah membaca satu buku yang sama sampai
beberapa kali bisa menjadi petunjuk bahwa buku itu memiliki lapisan-lapisan
interpretasi dan sanggup menyesuaikan diri dengan suasana hati yang berbeda.
Di lain pihak,
saya mungkin tidak menganggap diri bangga setelah mampu membaca satu buku lebih
dari dua kali. Saya malah dihantui pertanyaan yang sama: kapan giliran buku
lainnya, yang sudah lebih dari setahun masih terbungkus plastik dari toko buku?
Apakah ini cukup sebagai bukti bahwa saya membaca dengan teratur, ataukah hanya
sebagai “konsumsi publik” untuk menutupi kenyataan bahwa membaca belum benar-benar
menjadi kebiasaan? Bisakah saya menahan diri dari membeli atau meminjam atau
mengunduh buku dan memusatkan perhatian pada menyelesaikan yang sudah ada di
tangan?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar