Kamis, 15 Maret 2012

Tantangan 2. Menjadikan Kebiasaan

Ada hubungan antara membaca dan menulis. Kekurangan ide atau menurunnya motivasi dalam menulis bisa dihubungkan dengan kurang teraturnya kegiatan membaca atau kenyataan bahwa membaca itu belum menjadi kebiasaan.

Apapun alasan orang menulis, dia membutuhkan bacaan sebagai imbangan. Kalau seseorang membaca banyak tetapi menulis sedikit, mungkin dia seorang penikmat. Kalau seseorang menulis banyak tetapi membaca sedikit, kemungkinan dia sekadar curhat, atau siap untuk tersesat.

Untuk menjaga agar saya tetap membaca meskipun sedang kurang motivasi, sepertinya saya memilih membaca buku yang sudah pernah saya baca. Lebih banyak komik atau manga, sebenarnya. Tetapi ada beberapa pengecualian.

Sewaktu tinggal di Surabaya, saya beberapa kali pulang ke Makassar melalui jalur laut. Untuk menikmati sekitar 22-24 jam di atas kapal, saya membawa teman satu-dua buku. Yang tidak terlalu tebal tetapi cukup menyibukkan. Yang ceritanya tidak terlalu rumit tetapi cukup mengundang perenungan atau memancing hayalan. Dan beberapa kali yang terbawa adalah “The Jungle Books”. Mungkin buku itu sudah dua kali saya baca di atas kapal. Ditambah pengalaman membacanya di darat, menurutku “The Jungle Books” sudah kubaca paling sedikit tiga kali.

Alasan pemilihannya bisa berbagai, dari yang berhubungan dengan buku itu sendiri sampai penciptaan citra tertentu di mata penumpang lain. Antara lain, saya tidak ingin mengalami loncatan-loncatan emosi yang terlalu besar (kalau misalnya membaca buku yang belum pernah kubaca); saya bisa berhenti membaca kapan saja dan melakukan kegiatan lain, karena alur cerita sudah kuketahui sehingga tidak ada rasa penasaran yang menggebu yang akan memaku saya di depan buku itu; “The Jungle Books” bisa menjadi jembatan percakapan dengan penumpang lain karena sudah umum dikenal (baik sebagai buku, film,maupun sebagai kartun), apalagi kalau bertemu dengan sesama penyuka buku atau sesama penggemar membaca.

Bagaimanapun, kenyataan bahwa saya bisa bertahan dan betah membaca satu buku yang sama sampai beberapa kali bisa menjadi petunjuk bahwa buku itu memiliki lapisan-lapisan interpretasi dan sanggup menyesuaikan diri dengan suasana hati yang berbeda.

Di lain pihak, saya mungkin tidak menganggap diri bangga setelah mampu membaca satu buku lebih dari dua kali. Saya malah dihantui pertanyaan yang sama: kapan giliran buku lainnya, yang sudah lebih dari setahun masih terbungkus plastik dari toko buku? Apakah ini cukup sebagai bukti bahwa saya membaca dengan teratur, ataukah hanya sebagai “konsumsi publik” untuk menutupi kenyataan bahwa membaca belum benar-benar menjadi kebiasaan? Bisakah saya menahan diri dari membeli atau meminjam atau mengunduh buku dan memusatkan perhatian pada menyelesaikan yang sudah ada di tangan?

Sepertinya saya perlu membaca kembali “The Seven Habits of Highly Effective People”.


          


Selasa, 06 Maret 2012

Tantangan 1. Memulai

Tantangan besar, mungkin yang terbesar, bagi orang-orang yang mengandalkan spontanitas (atau mengandalkan mood) adalah memulai sesuatu secara terencana. Bagi mereka, merencanakan reuni SMA lebih sulit dibandingkan janjian dengan beberapa teman SMA. Padahal mungkin saja hasilnya sama. Mengirimkan surat undangan rapat menjadi kerja berat bagi mereka. Mengirim SMS sebagai undangan resmi ke beberapa orang, juga begitu. Padahal hal yang sama akan dilakukan dengan semangat, kalau embel-embel resmi itu dihilangkan.

Sama halnya dengan merencanakan membaca buku. Idealnya, membaca satu buku bisa direncanakan. Demikian juga, target jumlah buku yang selesai dibaca dalam setahun bisa tercapai kalau direncanakan. Apa susahnya merencanakan? Menjadi orang-orang yang spontan tidak berarti tidak bisa merencanakan. Bahkan rencana yang disusun orang-orang spontan bisa sangat menarik dan menggugah orang lain. Tantangannya terletak pada menjalankan rencana itu.

Tahun ini kumulai dengan rencana samar-samar. Bertaburan kata "mungkin", "kalau", "mudah-mudahan", "akan kuusahakan", dan semacamnya. Dan penekanannya ada pada kata "rencana" itu sendiri, karena aku malu mengingat-ingat; malu kalau mendapati bahwa sebenarnya aku tidak ingat membuat satupun rencana.

Jangan berpikir terlalu meluas. Kita bicara tentang buku saja. Dan komik atau manga tidak kumasukkan di sini. Setidaknya dalam tiga bulan terakhir aku teratur membeli buku dan komik. Tapi, yang selesai kubaca hanya komiknya saja. Buku-bukunya tidak kulirik sedikitpun. Mengapa? Mungkin takut tidak rampung-rampung kubaca, karena kesibukan lainnya. Mungkin takut kesibukan-kesibukan itu merusak konsentrasiku dalam membaca buku, dan kenikmatan membaca itu menjadi berkurang. Entahlah.

Tahun ini sudah berjalan dua bulan lima hari. Dan aku baru membaca satu buku. Itupun belum selesai. Satu hal yang pasti, buku itu bagus. Judulnya "A Wrinkle in Time", karya Madeleine L'Engle. Dulu sekali, aku menonton filmnya. Sekarang yang teringat hanya kepingan-kepingan adegan. Seperti saat anak-anak yang menjadi tokoh utama dalam cerita itu melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu melalui tesseract, konsep yang dalam cerita itu mirip dengan wormhole. Lucunya, seperti biasanya terjadi pada cerita-cerita bagus, begitu mencapai bagian klimaks atau konflik aku mulai kesulitan menutup buku itu. Hari ini kira-kira sudah seminggu buku itu kutinggalkan, karena tidak mau kisahnya cepat berakhir. Padahal banyak buku lain menumpuk dan berserakan -- di atas kasur, di dalam lemari, di lantai, di dalam kardus, di atas meja, di dalam tas, bahkan di rumah orang lain juga ada -- menunggu giliran dibaca.

Karena baru satu buku ini yang kubaca sejak bulan Januari, sejauh ini itulah buku terbaik yang kubaca tahun ini. Itupun belum selesai kubaca. Kalau kurencanakan kegiatan membaca dengan lebih rapi, bisa kupastikan ada banyak saingan bagi "A Wrinkle in Time" dalam memperebutkan posisi "buku terbaik yang kubaca tahun ini". Tidak perlu kusebutkan beberapa. Dan, tidak semuanya fiksi.

Tampaknya rencana harus segera kususun. Mungkin segera. Mudah-mudahan terlaksana. Akan kuusahakan. Kalau tidak lupa.