Selasa, 06 Maret 2012

Tantangan 1. Memulai

Tantangan besar, mungkin yang terbesar, bagi orang-orang yang mengandalkan spontanitas (atau mengandalkan mood) adalah memulai sesuatu secara terencana. Bagi mereka, merencanakan reuni SMA lebih sulit dibandingkan janjian dengan beberapa teman SMA. Padahal mungkin saja hasilnya sama. Mengirimkan surat undangan rapat menjadi kerja berat bagi mereka. Mengirim SMS sebagai undangan resmi ke beberapa orang, juga begitu. Padahal hal yang sama akan dilakukan dengan semangat, kalau embel-embel resmi itu dihilangkan.

Sama halnya dengan merencanakan membaca buku. Idealnya, membaca satu buku bisa direncanakan. Demikian juga, target jumlah buku yang selesai dibaca dalam setahun bisa tercapai kalau direncanakan. Apa susahnya merencanakan? Menjadi orang-orang yang spontan tidak berarti tidak bisa merencanakan. Bahkan rencana yang disusun orang-orang spontan bisa sangat menarik dan menggugah orang lain. Tantangannya terletak pada menjalankan rencana itu.

Tahun ini kumulai dengan rencana samar-samar. Bertaburan kata "mungkin", "kalau", "mudah-mudahan", "akan kuusahakan", dan semacamnya. Dan penekanannya ada pada kata "rencana" itu sendiri, karena aku malu mengingat-ingat; malu kalau mendapati bahwa sebenarnya aku tidak ingat membuat satupun rencana.

Jangan berpikir terlalu meluas. Kita bicara tentang buku saja. Dan komik atau manga tidak kumasukkan di sini. Setidaknya dalam tiga bulan terakhir aku teratur membeli buku dan komik. Tapi, yang selesai kubaca hanya komiknya saja. Buku-bukunya tidak kulirik sedikitpun. Mengapa? Mungkin takut tidak rampung-rampung kubaca, karena kesibukan lainnya. Mungkin takut kesibukan-kesibukan itu merusak konsentrasiku dalam membaca buku, dan kenikmatan membaca itu menjadi berkurang. Entahlah.

Tahun ini sudah berjalan dua bulan lima hari. Dan aku baru membaca satu buku. Itupun belum selesai. Satu hal yang pasti, buku itu bagus. Judulnya "A Wrinkle in Time", karya Madeleine L'Engle. Dulu sekali, aku menonton filmnya. Sekarang yang teringat hanya kepingan-kepingan adegan. Seperti saat anak-anak yang menjadi tokoh utama dalam cerita itu melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu melalui tesseract, konsep yang dalam cerita itu mirip dengan wormhole. Lucunya, seperti biasanya terjadi pada cerita-cerita bagus, begitu mencapai bagian klimaks atau konflik aku mulai kesulitan menutup buku itu. Hari ini kira-kira sudah seminggu buku itu kutinggalkan, karena tidak mau kisahnya cepat berakhir. Padahal banyak buku lain menumpuk dan berserakan -- di atas kasur, di dalam lemari, di lantai, di dalam kardus, di atas meja, di dalam tas, bahkan di rumah orang lain juga ada -- menunggu giliran dibaca.

Karena baru satu buku ini yang kubaca sejak bulan Januari, sejauh ini itulah buku terbaik yang kubaca tahun ini. Itupun belum selesai kubaca. Kalau kurencanakan kegiatan membaca dengan lebih rapi, bisa kupastikan ada banyak saingan bagi "A Wrinkle in Time" dalam memperebutkan posisi "buku terbaik yang kubaca tahun ini". Tidak perlu kusebutkan beberapa. Dan, tidak semuanya fiksi.

Tampaknya rencana harus segera kususun. Mungkin segera. Mudah-mudahan terlaksana. Akan kuusahakan. Kalau tidak lupa.

1 komentar:

  1. jadiiiii, hehehe...aku sendiri gak bisa memilih mana yang akan ku buat, surat, buku atau random sajah. alasannya karena aku sendiri enggak tau mau menulis apa :(

    ya rencana vs sikon, dan akhirnya , biasanya kalah sama diri sendiri. kenapa? karena keterbatasan waktu dan kurangnya usaha (dan kebanyakan ngelyh)


    btw aku belum baca bukunya neh -_____-" dan bahkan baru tau ada buku ini, mungkin lain kali bisa ada ulasannya ? eheheheheh

    BalasHapus